Tanjung Boleng NTT Kini Menikmati Listrik yang Murah dari PLN

Tanjung Boleng NTT Kini Menikmati Listrik yang Murah dari PLN
PLN melakukan pemasangan listrik di Kecamatan Tanjung Boleng, Manggarai Barat, NTT.

Listriktoday – Di tingkat nasional, persentase penduduk yang belum menikmati listrik memang hanya 0, 5 persen. Jumlah itu di atas kertas memang sedikit, tapi ketika melihat kondisi di lapangan, jumlah yang sedikit itu sebenarnya sangat sulit dijangkau. Dusun-dusun yang terisolir itu memiliki bentang alam yang sukar ditembus. Sebagian bahkan tidak bisa dilalui kendaraan berat.

View this post on Instagram

@pln_id telah menerima amanat untuk menerangi seluruh pelosok Indonesia. Di akhir tahun 2020 ditargetkan elektrifikasi mencapai 99,99%. Oleh sebab itu kerja berat tak boleh berhenti. Tidak karena Covid-19 sekalipun. Petugas lapangan harus berjibaku melawan kerasnya medan dan ancaman Corona. Mereka harus memanggul kabel, peralatan, bahkan tiang baja dalam kondisi memakai masker. Protokol kesehatan itu harus mereka jaga ketat agar tidak menularkan Corona. Hal itulah yang baru saja terjadi di Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Sebanyak 64 kepala keluarga di sana kini telah menikmati listrik, karena PLN berhasil menyambungkan jaringan listrik ke desa tersebut. #ListrikToday #PLNBeriSolusi

A post shared by Listrik Today (@listriktoday) on

PLN telah menerima amanat untuk menerangi seluruh pelosok Indonesia. Di akhir tahun 2020 ditargetkan elektrifikasi mencapai 99,99%. Oleh sebab itu kerja berat tak boleh berhenti. Tidak karena Covid-19 sekalipun. Petugas lapangan harus berjibaku melawan kerasnya medan dan ancaman Corona. Mereka harus memanggul kabel, peralatan, bahkan tiang baja dalam kondisi memakai masker. Protokol kesehatan itu harus mereka jaga ketat agar tidak menularkan Corona.

Hal itulah yang baru saja terjadi di Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Sebanyak 64 kepala keluarga di sana kini telah menikmati listrik, karena PLN berhasil menyambungkan jaringan listrik ke desa tersebut.

Kegembiraan itulah yang dirasakan oleh Paul, salah seorang warga Tanjung Boleng. Pada setengah abad usianya itu ia telah melihat banyak hal. Ia juga mendengar kabar kemajuan di wilayah lain. Tapi tidak di tempat ia tinggal. Tanpa listrik yang cukup, kemajuan tidak bisa diwujudkan. Sudah sejak lama keinginan untuk memiliki aliran listrik mengendap di hati penduduk Tanjung Boleng.

Namun nasib baik belum berpihak, mereka terpaksa menggunakan genset dan lampu minyak tanah sebagai penerangan. Dengan genset itu mereka memang bisa menikmati listrik, tapi untuk waktu dan kapasitas terbatas. Biaya opersionalnya juga sangat mahal. Jika menggunakan lampu minyak tanah, asap dan jelaganya membuat pedih di mata dan napas terasa pengap.

“Dulu sebelum ada listrik PLN, mayoritas penerangan untuk kegiatan warga di Tanjung Boleng menggunakan Genset dan lampu Minyak Tanah. Sehari membutuhkan sekitar Rp 50.000 untuk membeli BBM itu. Jumlah itu di luar biaya perawatan mesin bila ada masalah,” kata Paul sambil menerawang ke masa yang jauh.

Saat itu desa-desa di sekitarnya telah memiliki aliran listrik. Barang elektronik juga sudah banyak yang menjualnya di toko-toko elektronik di kota sana. Tetapi Paul dan warga dusun itu harus menahan keinginan itu sekian lama. Mereka harus paham soal biaya yang mesti dikeluarkan, sebulan membayar 1,5 juta bukan ongkos yang murah bagi warga biasa seperti dirinya.

Sambil tersenyum, lelaki paruh baya itu kembali berkata, “Semenjak ada listrik PLN, token listrik kami beli 50 ribu sebulan lebih belum habis juga, meskipun aktivitas di malam hari lebih lama.”

Untuk melistriki Dusun Tanjung Boleng, PLN telah membangun JTM (Jaringan Tegangan Menengah) sepanjang 15,26 kms, JTR (Jaringan Tegangan Rendah) sepanjang 10,04 kms dan 3 buah gardu dengan total kapasitas 150 kVa. Angka itu sangat berat untuk mencapainya, mengingat medan dan akses yang sulit membuat PLN harus bekerja ekstra keras agar target pembangunan tercapai. Masih pula ditambah rasa was-was akibat merebaknya virus Corona.

Namun perjuangan itu telah membuahkan hasil. Senyuman bahagia penduduk Tanjung Boleng yang telah lama merindukan listrik menjadi penawarnya. Rasa lelah dan was-was berhadapan dengan Corona terbayarkan sudah. Saat melihat kebahagiaan Paul dan warga dusun yang telah bebas menikmati listrik, sebagaimana saudara sebangsa mereka yang lainnya.

Baca Juga :  Pandemi dan Miskomunikasi Tagihan Listrik