Kenapa PLTU Batubara Modern Ramah Lingkungan? Ini Sebabnya

Oleh: Puji Handoko, Pemerhati Energi

PLTU berbahan bakar batubara kerap dianggap sebagai pencemar lingkungan. Hal itu pernah dinyatakan ketika polusi udara Jakarta mendekati titik yang mengkhawatirkan. Tapi ternyata PLTU terdekat menggunakan bahan bakar gas (PLTGU), bukan batubara. Kemudian diketahui, kendaraan bermotorlah sebagai biang keladinya. Terutama yang menggunakan bensin Premium dengan RON 88.

Meskipun pembangkit listrik memakai bahan bakar batubara yang dianggap kotor, ternyata sudah ada teknologi bernama Supercritical dan Ultra Supercritical Boiler, yang membuat polusi dari pembangkit sangat kecil sekali. Teknologi inilah yang diterapkan pada pembangkit PLN. Semakin baru usia pembangkit itu, semakin maju teknologi yang digunakannya.

Kunci utamanya di boiler, tempat untuk memanaskan air menjadi uap, yang kemudian menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik. Boiler ultra supercritical bisa dipanasi sampai 630 derajat celsius. Dalam kondisi ini tidak ada lagi bentuk air dan uap, karena telah homogen.

Itulah mengapa jenis boiler ini disebut ultra super critical. Efisiensi boiler tersebut lebih tinggi. Untuk menghasilkan energi panas yang sama, dibutuhkan bahan bakar lebih sedikit daripada boiler subcritical. Emisi gas buang, terutama karbon dioksida, relatif lebih rendah daripada boiler subcritical. Ukuran boiler juga relatif lebih kecil daripada boiler subcritical, dengan hasil yang sama.

Baca Juga :  Amankan Aset Rp960 Miliar, Sinergi PLN dan KPK Teruslah Berlanjut

Selain itu, pembangkit berbahan bakar batubara sudah mulai menggunakan Clean Coal Technology (CCT). Dengan cara inilah efisiensi bahan bakar dan penekanan emisinya bisa dilakukan dengan maksimal.

Benar, CCT memang tidak sepenuhnya menghilangkan emisi menjadi nol atau mendekati nol, tetapi emisi yang dihasilkan jauh lebih sedikit. CCT terbukti dapat mengurangi emisi dari beberapa polutan dan limbah, serta peningkatan energi yang dihasilkan dari tiap ton batubara. Dengan demikian, maka teknologi CCT untuk PLTU saat ini lebih efisien dan ramah lingkungan.

Penggunaan teknologi “batu bara bersih” yang pertama kali beroperasi di dunia terjadi pada bulan September 2008 di Spremberg, Jerman. Kemudian pengembangan teknologi ini menjalar ke seluruh dunia. Terutama setelah ditandatangani Paris Agreement (2015), yang menyepakati untuk mengatasi perubahan iklim dan dampak negatif lingkungan di seluruh dunia.

Ada empat teknologi untuk menghasilkan batubara yang bersih dan ramah lingkungan, pertama Teknologi Sebelum Pembakaran (Precombustion). Sebelum digunakan, batubara dicuci lebih dahulu. Tujuan utama dari proses pencucian tersebut adalah untuk mengurangi kotoran, terutama kandungan sulfur yang secara organik tidak terikat pada batubara.

Baca Juga :  Milenial Keren Tangerang Temukan Inovasi Listrik Seharga Rp 1

Hal itu juga dapat memperbaiki kandungan panas, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pembangkitan. Proses pembersihan batubara secara luas dapat mengurangi emisi sulfur dari pembakaran batubara. Dengan begitu ia menjadi rendah polusi.

Kemudian yang kedua adalah Teknologi Selama Proses Pembakaran (Combustion). Ketika dibakar, batubara kembali dibersihkan. Pembersihan batubara pada saat pembakaran merupakan cara menghilangkan bahan pencemar dari batubara, ketika batubara tersebut sedang dibakar. Hal itu dilakukan melalui pengendalian parameter pembakaran, seperti bahan bakar, udara (oksigen), dan temperatur.

Beberapa teknik yang dipergunakan untuk menghilangkan emisi SO2 atau membatasi NOx pada saat pembakaran, secara bersamaan dapat juga memperbaiki efisiensi panas.

Selanjutnya yang ketiga, Teknologi Sesudah Proses Pembakaran (Postcombustion). Semua teknologi baru yang diterapkan sesudah proses pembakaran, seperti pembersihan gas untuk mengurangi emisi-emisi SO2 dan NOx, serta partikel debu secara simultan dari cerobong, masih dalam proses pengembangan. Beberapa di antaranya, Flue-gas Desulfurization (FGD), Regenerable Flue-gas, Desulfurization Systems Selective Catalytic Reduction (SCR).

Baca Juga :  PLN Dorong Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

Yang keempat adalah Teknologi Konversi Batubara. Teknologi konversi batubara ini mengubah batubara dari bentuk padat ke bentuk lainnya, seperti gas atau cair. Teknologi tersebut terus mengalami perbaikan dan pengembangan. Beberapa teknologi proses konversi batubara itu antara lain, Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC) dan Integrated Gasification Fuel Cell (IGFC).

Indonesia telah ikut menandatangani Paris Agreement pada tahun 2016. Dengan sendirinya seluruh kebijakan yang diambil telah disesuaikan dengan kesepakatan masyarakat dunia itu, demi menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik. Pembangunan pembangkit baru juga disesuaikan dengan cita-cita bersama ini. Jadi, PLTU kita saat ini telah memulai langkah baru dengan teknologi Ultra Supercritical Boiler dan Clean Coal Technology. Inilah mengapa pembangkit listrik modern kita lebih efisien dan ramah lingkungan.