Rencana Megah Suralaya: Sang Penopang Sumber Listrik Jawa – Bali

Backbone. Tulang punggung. Status itu layak disematkan kepada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya, Banten, yang menjadi salah satu pemasok kelistrikan di wilayah Jawa-Bali. Dengan kapasitas 3.400 Mega Watt (MW), peran pembangkit ini menjadi salah satu tulang punggung kelistrikan di wilayan Jawa.

General Manager Unit Pembangkitan Suralaya PT Indonesia ‎Power Amlan Nawir mengatakan, pasokan listrik sebesar 3.400 MW dari PLTU Suralaya, masuk dalam sistem jaringan 500 kilo Volt (kV) Jawa-Bali kemudian dialirkan ke konsumen. 

“Jadi sisem kelistirkan kami kapasitas terpasang 3.400 masuk 500 kV Jawa Bali, dari situ ke Jakarta,” Kata Amlan, di PLTU Suralaya, Banten.

Menurut Amlan, 3.400 MW listrik dari PLTU Suralaya memasok 18 persen ‎kelistrikan Jawa Bali yang saat ini sekitar 25 ribu sampai 26 ribu MW.

PLTU tersebut memiliki tujuh unit, empat unit masing-masing berkapasitas 400 MW dan tiga unit berkapasitas 600 MW.

‎”Sistem Jawa-Bali dari PLTU Suralaya 18 persen,” ujarnya.

Memantapkan posisi tulang punggung kelistrikan Jawa Bali itu, Pembangunan fisik PLTU Suralaya Unit 9 dan Unit 10 dimulai tahun ini. Beberapa penyedia jasa keuangan luar negeri pun siap memodali pembangunannya.

Baca Juga :  Promo Super Merdeka Diperpanjang, Manfaatkan Yuk!

Direktur Operasi PT Indoraya Tenaga Yudianto Permono mengatakan, pembangunan PLTU Suralaya unit 9 dan 10 berkapasitas 2X1.000 Mega Watt (MW) dilakukan sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dimulai 2020, beroperasi pada 2023 untuk unit 9 dan untuk unit 10 beroperasi pada 2024.

Yudianto mengungkapkan, lahan untuk pembangunan PLTU Suralaya unit 9 dan 10 sudah siap , hal ini sebagai modal awal proyek PLTU 9 dan 10 yang diperkirakan membutuhkan investasi USD 3,5 miliar, setelah proyek akan berjalan dicarikan pendanaan eksternal.‎

“Sudah dikerjakan pematangan lahan gunakan equity sendiri setelah itu kontraktor langsung masuk,‎” tuturnya.

Menurutnya, sejumlah lembaga pinjaman sudah menyatakan ketertarikan untuk berinvestasi. Lembaga pinjaman tersebut di antaranya berasal dari Korea Selatan yang akan jadi investor utama pembangunan Suralaya unit 9 dan 10.

“Kebanyakan Asia Pasifik. Ada Korea Selatan, Thailand, Malaysia. Yang banyak memang Korea K-Sure dan Exxim bank,” urainya.

Proyek PLTU Suralaya unit 9 dan 10 dikerjakan perusahaan patungan, Indonesia Power sebagai induk usaha atau pemilik saham 51 persen dengan menyediakan lahan pembangunan.

Baca Juga :  Hati-hati Bermain Layangan dan Balon Udara, Bisa Membuat Listrik Padam dan Dipenjara

Majulah terus pembangunan pembangkit PLTU Suralaya, semoga ‘tiang penopang’ kelistrikan PLN ini dapat terjaga kuat sebagai sumber energi masyakat Jawa-Bali.