Menerangi Kawasan Timur Indonesia Jadi Prioritas

LISTRIKTODAY – Target pemerintah meningkatkan rasio elektrifikasi 99,99% pada akhir tahun ini terus dikejar. Salah satu strategi ialah menggenjot kelistrikan di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Khususnya kawasan timur Indonesia.

Diketahui, Kawasan Timur Indonesia memiliki tingkat rasio elektrifikasi di bawah rata-rata nasional. Rinciannya, Papua dengan rasio elektrifikasi 94,4%, Maluku 91,72% dan Nusa Tenggara Timur 86,13%. Kondisi geografis dan rumah penduduk yang tersebar menjadi tantangan pembangunan sistem kelistrikan di kawasan timur.

Berlahan tapi pasti, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) meningkatkan keandalan listrik di Kawasan Timur Indonesia. Belum lama ini, perusahaan setrum negara berhasil memberikan tegangan pertama (energize) pada jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kiloVolt (kV) di Pulau Flores.
Jaringan itu mengalirkan aliran listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Maumere menuju Gardu Iinduk (GI) Maumere.

SUTT ini merupakan transmisi pertama yang beroperasi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Serta menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Dengan beroperasinya jaringan transmisi ini akan meningkatkan layanan listrik untuk konsumen.

Baca Juga :  Waspada Pemadaman Bergilir, Ini Antisipasinya

“Selama ini PLN mengevakuasi daya pembangkit melalui jaringan tegangan menengah 20 kV. Dengan adanya jaringan transmisi 150 kV tentu listrik lebih andal. Kami sangat yakin menyampaikan kepada stakeholder bahwa PLN siap mendukung investasi di Flores,” ujar General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara Yuyun Mimbar Saputra.

Jaringan SUTT PLTMG Maumere–GI Maumere terbentang sepanjang 51,78 kilo meter sirkuit (kms) dan memiliki 77 tower. Adapun total daya yang disalurkan mencapai 40 megawatt (MW).

Selain meningkatkan keandalan, jaringan SUTT PLTMG Maumere–GI Maumere juga mendorong efisiensi dan menurunkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) sistem kelistrikan di Flores.

Dengan begitu, tinggal selangkah lagi untuk merealisasikan interkoneksi sistem Ende dan Maumere. Interkoneksi ini syarat mutlak, agar dapat mengoptimalkan penggunaan pembangkit murah. Seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ropa dan Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Sokoria.

“Apabila kita berhasil merealisasikan interkoneksi sistem Flores, suplai energi listrik ke kota/kabupaten di Pulau Flores akan lebih aman, andal dan efisien,” imbuhnya.

Baca Juga :  Mongol Stres: Jangan Lupa Bayar Listrik

Di tengah mendorong rasio elektrifikasi, PLN dihadapkan tantangan pandemi Covid-19. Harus diakui, pandemi menimbulkan tantangan dalam proses pembangunan jaringan transmisi. Khususnya, dalam proses pemberian kompensasi kepada masyarakat.

PLN pun bekerja sama dengan pemerintah desa dan pemerintah daerah. Sehingga, pemberian kompensasi dapat terlaksana dengan proses tatap muka yang minimal.