Sengatan Setrum Tumbuhkan Simpul-Simpul Perekonomian Baru

LISTRIKTODAY – Luas wilayah Indonesia menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 yang dirilis tahun 2018 yakni 1.916.862,20 km2, sementara jumlah pulau di Indonesia 16.056.

Luasnya wilayah Indonesia jadi peluang dan juga tantangan. Potensi wilayah yang beragam, bisa dikembangkan sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Di sisi lain, pengembangan perekonomian daerah membutuhkan infrastruktur, salah satunya listrik.

Saat HUT ke-75 Republik Indonesia, PLN menyampaikan rasio elektrifikasi Indonesia telah mencapai 99,09 persen hingga semester 1 tahun 2020. Artinya masih ada 0,9% wilayah yang belum teraliri listrik.

Kita patut mendukung dan memberi semangat kepada Negara melalui PLN untuk membuat elektrifikasi menjadi 100%. Terlepas dari itu, hadirnya listrik di daerah-daerah terpencil bagi masyarakat ataupun industri juga mendukung perekonomian lokal.

Belum lama ini, untuk mendorong pertumbuhan industri di daerah perbatasan, PLN nyalakan listrik dilokasi pabrik PT. Kayu Mukti Timber (KMT). Perusahaan industri yang memproduksi panel kayu playwood dan venner ini menikmati listrik PLN dengan tarif/daya I3/1.450 kVA.

Baca Juga :  PLN Group Raih 4 Penghargaan Emisi Korporasi 2021

Manajer PLN UP3 Sanggau, Gurit Bagaskoro menyebutkan pihaknya siap mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat khususnya para pelaku usaha industri didaerah perbatasan.

“Masa pandemi ini tidak menjadi halangan bagi kami untuk dapat memberikan pelayanan dan menjaga kualitas pasokan listrik kepada pelanggan. Penyalaan listrik di PT. KMT ini tentunya menjadi kado terindah di Hari Kemerdekaan Indonesia ke-75 Tahun untuk masyarakat sekitar lokasi pabrik dimana keberadaannya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Desa Urang Unsa,” ungkap Gurit.

PLN nyalakan listrik dilokasi pabrik PT. Kayu Mukti Timber (KMT). Istimewa/PLN

Dari sisi konsumen listrik, Deputy Manager PT. KMT, Zhe Kienf, mengungkapkan dengan beroperasinya pabrik ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah perbatasan terutama untuk masyarakat sekitar pabrik dengan terbukanya lowongan kerja baru.

“Saat ini kami masih fokus untuk melakukan pelatihan bagi karyawan. Target kami di bulan Oktober 2020 sudah mulai dapat beroperasi secara penuh,” Ungkap Zhe Kienf.

Dengan beroperasinya pabrik playwood dan venner tentu akan melahirkan kebutuhan tenaga kerja. Kita berharap, warga lokal ikut mendapatkan sengatan setelah pabrik tersebut beroperasi.

Baca Juga :  Lancarkan Penanganan Pasca Gempa Sulbar, PLN Pasang Telepon Satelit

RASIO ELEKTRIFIKASI

Melompat ke Kawasan Indonesia Timur. Salah satu fokus elektrifikasi adalah Ambon dan NTT. Dilaporkan, pada 22 Agustus silam, PLN berhasil mengalirkan listrik dua desa terpencil di Kecamatan Fena Fanfan, Kanupaten Buru Selatan, Ambon, yaitu Desa Uneth dan Desa Fakal. Sekitar 176 Kepala Keluarga kini bisa menikmati listrik PLN.

Pembangunan listrik untuk menerangi desa-desa di kawasan 3T (Terdepan, Tertinggal dan Terluar) merupakan upaya PLN mewujudkan keadilan energi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Untuk melistriki Desa Uneth dan Desa Fakal, PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 2 kilometer sirkuit (kms) dan 2 buah Gardu Distribusi berkapasitas 50 kiloVolt Ampere (kVA).

Pelistrikan desa di NTT. IStimewa/PLN

Selain itu, Sepanjang bulan Agustus, PLN juga berhasil melistriki 20 Desa dan 1 Dusun di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kehadiran listrik membawa banyak dampak dalam kehidupan masyarakat, mulai dari menggerakan roda perekonomian, meningkatkan kualitas pendidikan hingga kesejahteraan.

Di Desa Mbueain, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao yang mayoritasnya bermata pencaharian sebagai nelayan, hadirnya listrik memberikan nilai tambah ikan-ikan hasil tangkapan.

Baca Juga :  Luar Biasa, Petugas PLN Kembali Catat Meter ke Rumah Pelanggan

“Selama ini hasil tangkapan nelayan hanya dijual dan untuk konsumsi sendiri. Untuk mengawetkan ikan kami harus mencari es batu ke Nembrala, Oenitas atau Dela, dengan harga Rp1.000,- per batang, atau Rp200.000,- per boks untuk kebutuhan 2 sampai 3 hari. Sekarang sudah ada listrik kami bisa membuat sendiri es batu dan pengawetan ikan juga menjadi lebih murah,” imbuh Kepala Desa Mbueain, Fedi Ontiel Bobby.

Hingga bulan Juli 2020, rasio elektrifikasi Provinsi NTT telah mencapai 86,13 persen. Sementara hingga bulan Agustus 2020, rasio desa berlistrik telah mencapai 94,33 persen.

Dapat dilihat, kehadiran listrik di sana memberikan dampak luar biasa bagi masyarakat. Bisa dibayangkan untuk mencari es batu, nelayan memerlukan Rp200.000 per box hanya untuk tiga hari. Sekarang, kita berharap, daerah daerah lain, lekas disengat listrik PLN dan melihat senyum masyarakat sekitar.