LISTRIKTODAY – Hingga semester I 2020, rasio elektrifikasi nasional sudah mencapai 99,09% dan rasio desa belistrik tercatat 99,51%.

Tidak hanya mengejar target pemerataan pasokan listrik, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) juga fokus menyediakan sistem kelistrikan yang andal dan berkelanjutan. Di tengah upaya penyediaan listrik, PLN juga membutuhkan serapan listrik dari sektor usaha.

Secara tren, konsumsi listrik memang meningkat seiring peningkatan akses atau elektrifikasi, berikut perubahan gaya hidup. Pada 2015, konsumsi listrik tercatat 910 kWh per kapita. Per semester I 2020, konsumsi listrik nasional mencapai 1.084,3 kWh per kapita.

Pembangunan infrastruktur kelistrikan di Tanah Air pun mengalami perkembangan signifikan. Hingga Mei 2020, kapasitas pembangkit terpasang sebesar 70.901 megawatt (MW). Berbeda dengan kondisi pada 2015 di mana kapasitas pembangkit terpasang tercatat 54.687 MW.

PLN juga terus membangun jaringan transmisi dan distribusi untuk memperluas penyaluran listrik ke pelanggan. Pada 2015, jaringan transmisi terpasang hanya sekitar 41,68 ribu kilometer sirkuit (kms). Kemudian per Mei 2020, jaringan transmisi terpasang sudah mencapai 60,65 ribu kms.

Baca Juga :  HLN ke-75, PLN Terangi Negeri dan Peduli Anak Yatim

Dalam proses pembangunan transmisi, tantangan terbesar yang dihadapi perseroan ialah proses pembebasan lahan. Ditambah dampak pandemi Covid-19, yang menghambat penyediaan material utama transmisi. Namun, PLN berupaya mengatasi persoalan tersebut agar tidak mengganggu upaya penyediaan listrik.

Menyoroti jaringan distribusi terpasang pada 2015 tercatat 843,10 ribu kms. Jumlahnya kian meningkat hingga Mei 2020, yakni 993,40 ribu kms. PLN memastikan seluruh sistem kelistrikan dalam kondisi cukup. Perusahaan pun berkomitmen melistriki daerah terpencil, walaupun berhadapan dengan tantangan geografis dan akses minim.

Ketersediaan pasokan listrik juga didukung beroperasinya pembangkit dari program 35.000 MW. Berdasarkan data PLN pada Semester I 2020, pembangkit yang sudah beroperasi komersial (COD) dari program 35.000 MW tercatat 8.187 MW atau sekitar 23%. Adapun proyek pembangkit yang masuk tahap konstruksi mencapai 19.250 MW atau 54%.

“Sebagian besar sudah dalam tahap konstruksi. Proyek yang sudah terkontrak, namun belum mulai proses pembangunan mencapai 6.878 MW atau 20%,” ujar Direktur Utama PLN Zulfikli Zaini dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI beberapa waktu lalu.

Baca Juga :  Soal Mafia Pulsa Listrik, Rizal Ramli Membuat Hoax Itu Sejak 2015

Perkembangan proyek 35.000 MW terdiri dari pembangkit yang dibangun PLN dan Produsen Listrik Swasta (IPP). Rinciannya, PLN telah menyelesaikan pembangkit yang sudah beroperasi sebesar 3.488 MW. Sementara itu, pembangkit listrik milik swasta yang telah beroperasi sebesar 4.649 MW.

“Seluruh proyek dalam program pembangunan ini kami targetkan selesai pada 2025. Itu dengan menyesuaikan demand yang ada,” jelas Zulfikli.

Di tengah pandemi Covid-19, perseroan berupaya menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan listrik. Tidak dapat dipungkiri, kinerja keuangan PLN pun tertekan, karena biaya operasional cenderung meningkat. Sebagai informasi, penjualan listrik mengalami penurunan akibat turunnya konsumsi masyarakat. Pertumbuhan konsumsi listrik periode Juni 2020 terpantau turun 7,06% dibandingkan Januari 2020.

Kendati demikian, PLN tetap memegang prinsip 5 K dalam program kelistrikan, yakni kecukupan, keandalan, keberlanjutan, keterjangkauan dan keadilan. Sejalan dengan upaya pemerintah untuk menggenjot daya beli masyarakat, pelaku bisnis hingga industri, perseroan pun memberikan stimulus ekonomi berupa diskon tarif listrik. Bantuan menyasar lebih dari 33 juta pelanggan PLN dengan ketentuan yang diatur pemerintah.