Energi Terbarukan Dimulai dari Daerah
Salah satu pembangkit di Pekanbaru

LISTRIKTODAY – Tahun lalu, PLTU Tanjung Jati B atau biasa disebut TJB berhasil memenuhi target untuk meraih Proper Emas 2019 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Mendapatkan peringkat Proper Emas tidaklah mudah. Anak usaha PT PLN (Persero) yang berlokasi di Jepara, Jawa Tengah, telah meraih Proper Hijau selama 6 tahun berturut-turut pada 2013—2018.

PLTU Tanjung Jati B merupakan pembangkit listrik PLN dari batu bara dengan kapasitas 4×710 MW yg terletak di Jepara, Jawa Tengah dan merupakan salah satu tulang punggung sistem kelistrikan Jawa-Bali.

Raihan Proper Emas untuk PLTU Tanjung Jati B menambah kebahagiaan PLN yang pada tahun lalu mengoleksi total lima penghargaan Proper Emas dan 16 penghargaan Proper Hijau dalam ajang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) 2019 dari Kementerian LHK.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan meskipun pengelolaan PLTU Tanjung Jati B menggunakan energi fosil, PLN terus dan selalu menjaga komitmen dalam menerapkan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

“Proper sangat memiliki peranan dalam perusahaan, selain meningkatkan performa pembangkit, proper meningkatkan efisiensi produk. Tahun 2019 kami mampu melakukan penghematan Rp5,2 triliun, karena Proper,” katanya.

Baca Juga : 

Selama setahun terakhir, PLN Tanjung Jati B telah berhasil menurunkan emisi hingga 2.500 Ton SO2, 4.400 Ton NOx, dan 1.3 juta Ton CO2eq. Bersamaan dengan melakukan peningkatan luas area konservasi hingga 5.400 m2.

Dalam program pemberdayaan masyarakat, PLN Tanjung Jati B aktif mendukung kelompok difabel untuk memproduksi handsanitizer dari produk herbal dan masker ramah disabilitas.

Selain itu, dari PLTU ini juga telah menyalurkan berbagai bantuan akibat pandemi Covid-19 mulai dari masyarakat sekitar hingga ke negara tetangga.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan penghargaan Proper merupakan penghargaan bagi dunia usaha yang menunjukkan kinerja luar biasa dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pihaknya juga mengumumkan perusahaan yang tidak taat terhadap peraturan lingkungan hidup.

Pada penghargaan Proper 2019 ini, KLHK melakukan penilaian terhadap 2.045 perusahaan. Menurutnya, tingkat ketaatan perusahaan terhadap peraturan lingkungan mencapai 85% atau 1.708 perusahaan. Bahkan, penerima proper itu masuk dalam 45 program inovatif nasional.

“Penghargaan terhadap dunia usaha dilakukan melalui proses evaluasi terhadap ketaatan peraturan pengelolaan lingkungan hidup, penerapan sistem manajemen lingkungan, efisiensi energi, konservasi air, pengurangan emisi, perlindungan keanekaragaman hayati, 3R pada limbah B3 padat dan non B3 serta pemberdayaan masyarakat,” katanya.