LISTRIKTODAY – Pemerintah akhirnya mengeluarkan limbah batu bara dari kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Dari proses pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap PLTU, boiler, dan tungku industri, menyisakan fly ash dan bottom ash (FABA).

FABA merupakan limbah padat yang dapat digunakan untuk keperluan bahan baku atau keperluan sektor konstruksi.

Kepastian keluarnya FABA dari golongan limbah B3 merujuk Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Tepatnya pada Pasal 458 (3) Huruf C PP No. 22/2021, dijelaskan fly ash batu bara dari kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan kegiatan lainnya tak termasuk sebagai limbah B3.

“Pemanfaatan limbah nonB3 sebagai bahan baku yaitu pemanfaatan Limbah nonB3 khusus seperti fly ash batubara dari kegiatan PLTU dengan teknologi boiler minimal CFB (Ciraiating Fluidi”zed Bed) dimanfaatkan sebagai bahan baku kontruksi pengganti semen pozzolan,” demikian tertulis poin terkait.

Dalam lampiran ke-14 beleid tersebut, pemerintah mendaftar limbah non B3 terdaftar, yakni slag besi, slag nikel, fly ash, bottom as, deby EAF, PS ball, spent bleaching earth dan pasir foundry.

Baca Juga :  Musim Hujan, Yuk Kita Waspadai Bahaya Kerusakan Kelistrikan

PP tersebut adalah aturan turunan dari Undang-undang Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Ciptaker).

PP 22/2021 itu sendiri diteken Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada 2 Februari 2021 untuk menggantikan PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

Dikeluarkannya FABA dari lembar limbah B3 merupakan usulan dari pelaku usaha. Sebelumnya, Ketua Apindo Haryadi Sukamdani mengak ada 16 asosiasi usaha kompak mengusulkan penghapusan FABA.

Menurutnya, dari hasil uji karakteristik dari industri menunjukkan bahwa FABA memenuhi baku mutu/ambang batas persyaratan yang tercantum dalam PP No. 101 Tahun 2014, sehingga dikategorikan sebagai limbah non B3, seperti halnya di beberapa negara, antara lain Amerika Serikat, China, India, Jepang, dan Vietnam.

Pelaku usaha tentu semringah dengan adanya kebijakan pemerintah ini. Ke depan, FABA akan dimanfaatkan semaksimal mungkin, sehingga nilai ekonomi dapat terjadi.

Awal Maret lalu, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) mendorong pemanfaatan limbah padat ini untuk bahan baku atau keperluan sektor konstruksi.

Baca Juga :  PLN Beri Keringanan Pelanggan Terdampak Gempa Mamuju dan Majene

Deputi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Nani Hendiarti, mengatakan penggunaan FABA untuk berbagai keperluan harus tetap menerapkan prinsip kehatian-hatian setelah adanya dorong dan permintaan berbagai pihak untuk pengecualian FABA dari daftar limbah B3.

Menurut Nani penyusunan PP 22/2021 yang dikawal oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan proses yang cukup panjang dan akhirnya mengeluarkan FABA dari daftar B3.

Adanya regulasi baru itu, kini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang banyak menghasilkan FABA sudah bisa begerak cepat dalam menyiapkan skenario dan road map atau peta jalan pemanfaatannya.

“Pemanfaatan FABA sudah sering dibahas, digunakan untuk bahan baku berbagi produk dan ini nantinya masuk sirkularitas dalam sektor industri,” ujarnya.