LISTRIKTODAY – Pemerintah resmi mengeluarkan fly ash dan bottom ash dari daftar limbah berbahaya dan beracun (B3). Hal itu tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 22/2021.

Sebenarnya, Indonesia tergolong negara yang terlambat memisahkan FABA dari daftar limbah berbahaya.

Dalam makalah Perbandingan Regulasi Fly Ash sebagai Limbah B3 di Indonesia dan Beberapa Negara yang diterbitkan Media Komunikasi Teknik Sipil, Amerika Serikat mengeluarkan fly ash dari kategori limbah beracun.

Tidak hanya Amerika, negara di Eropa melalui European Union (EU) menyatakan bahwa fly ash bukan termasuk limbah berbahaya.

Berbeda dengan Amerika dan negara-negara di Eropa, China mengelompokkan sebagai limbah industri kategori dua. Sementara itu, ada juga Vietnam dengan motivasi khusus lmemerintahkan pemanfaatan fly ash sebesar-
besarnya.

Adapun untuk India menargetkan pemanfaatan fly ash hingga 100 persen. Inilah yang perlu didorong di Indonesia.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan KESDM (2018), proyeksi kebutuhan batu bara hingga 2027 sebesar 162 juta ton.

Prediksi potensi FABA yang dihasilkan sebesar 16,2 juta ton, dengan asumsi 10 persen dari pemakaian batu bara.

Baca Juga :  Dorong Ekonomi Nasional, PLN Siap Manfaatkan FABA

Banyaknya limbah abu batu bara yang dihasilkan tidak seiring dengan cara penanganannya. Sebagian besar masih terbatas melalui penimbunan lahan (landfill).

Berkaca dengan negara lain, dikeluarkannya fly ash dari daftar limbah berbahaya, memacu tingkat pemanfaatan limbah ini di sebuah negara.

Contohnya, di India telah memanfaatkan hingga 67 persen di 2018. Tingkat daur ulang di benua Eropa juga tinggi seperti Belanda 100 persen, Denmark 90 persen, Jerman 79 persen, Belgia 73 persen, Perancis 65 persen dan Inggris 70 persen.

Di Asia, Jepang sudah sejak lama memanfaatkan fly ash hingga 92 persen, disusul China dengan memanfaatkan fly ash hampir 100 persen meski hanya sebagian daerahnya saja.

Harus diakui, pemanfaatan fly ash di Indonesia masih terbatas sebagai sedikit bahan tambahan industri konstruksi.

Yuk, kita dukung pemanfaatan FABA agar tak sekadar menjadi limbah belaka.

*Materi utama diambil dari makalah Perbandingan Regulasi Fly Ash sebagai Limbah B3 di Indonesia dan Beberapa Negara, oleh Januarti Jaya Ekaputri dan M. Shahib Al Bari, yang diterbitkan Media Komunikasi Teknik Sipil